![]() |
| Secangkir Kopi Wasiat dan Wasiat Untuk Si-Kopi |
Selamat pagi, udara pagi ini terasa
sejuk, berpadu rintik yang mengundang rindu. Kopi wasiat masih setia temani ku bekerja,
uap yang keluar dari Pekat Kopi membuat mata menjadi perih. Tak sengaja air
mataku mengalir, membawa semua kenangan lama yang seakan belum berakhir.
Handphone ku berbunyi, Sepertinya
aku kenal lirik ini,
When I was a young boy
My father took me into the city
To see a marching band
My father took me into the city
To see a marching band
He said, "Son, when you grow up, Would you be the savior of the broken, The beaten and the damned?"
He said "Will you defeat them, Your demons, and all the non-believers The plans that they have made?"
"Because one day, I'll leave you, A phantom to lead you in the summer, To join The Black Parade"
Hei aku mengenal mu, mari kita bertegur sapa.
My Chemical Romance “Welcome to
the Black Parade”, mengingatkan ku pada awal pertamakali mendaftar masuk ke salah satu sekolah
kejuruan di Kota Pelaihari. Karna memiliki hobi editing dan disain grafis, pilihan
saya tertuju pada satu jurusan, yakni Multmedia, menurut saya jurusan ini dapat
mengembangakan hobi yang saya miliki.
Akan tetapi semua tidak berjalan
seperti harapan, dengan alasan nilai yang tidak mengampuni saya gagal masuk ke
jurusan yang sangat saya idolakan itu dan hanya mampu masuk bangku cadangan
nomor 2.
Hal tersebut membuat saya putus
asa, ditambah masukan-masukan yang membuat saya semakin pesimis, serasa jadi
kaum Yahudi dihadapan para tentara Nazi, kehilangan harapan untuk hidup.
Di saat keterpurukan itu, ada
seorang guru yang menghampiri dan menawarkan saya masuk ke jusuran Penjualan dikarnakan
kurangnya peminat, rumor negative serta pandangan buruk dari masyarakat
terhadap jurusan tersebut, ditambah dengan jurusan yang sangat jauh dari hobi
membuat saya berpikir 2 kali.
“Jangan masuk Penjualan, isinya
anak berandalan semua”.
“Gak ada masa depan, kalau masuk
ke sana”.
“Nagapain masuk penjualan, mau
jualan di pasar?”.
Semua persepsi negative satu
persatu masuk kedalam benak saya, ayah saya yang mengetahui hal tersebut membawa
saya pergi ke kantor tempatnya bekerja. Disana dia memberikan gambaran
bahwasannya sebuah jurusan dan semua rumor negative di dalamnya tidak
menentukan kesuksesan dari seseorang, katanya kesuksesan itu di dapat dari
tekat dan usaha, bukan dari “kata orang lain”.
“Liat orang itu lulusan Sarjana
****, tapi jadi supir, coba liat pengawasnya, masih muda kan? Dia cuman lulusan
SMA. Jadi nak, sukses itu bukan dari lulusan apa atau jurusan apa, tapi dari
tekat dan usaha yang kita bangun, gimana caranya kita bisa mencapai kesuksesan
itu sendiri”, katanya.
Dan akhirnya saya membulatkan
diri unutuk masuk ke jurusan tersebut, dan ternyata….. tidak seperti yang di
bayangkan. Selama 3 tahun mengemban ilmu di Jurusan tersebut, tidak ada masalah,
saya menikmati pilihan ini, teman yang ramah, guru yang tegas serta suasana
kondusif pelajaran membuat saya semakin mematahkan persepsi orang-orang tentang
jutusan ini, tidak ada yang berbeda, mereka sama dengan murid jurusan lain.
Kenakalan mereka masih dalam kata
wajar, kenakalan remaja, soal prestasi ??? Tentunya murid Penjualan juga sudah
menyumbangkan beberapa prestasi yang mengharumkan nama sakolah, dan jika
bertanya bagaimana hobi saya?
Saya masih mengasah ilmu editing
dengan belajar dan sharing teman-teman di jurusan saya, karena bukan cuman saya
yang awalnya mendaftar di jurusan Multimedia, dan tentunya mereka juga punya
skill dasar tentang edinting yang mengampuni, mungkin skill editing dan disain
kami gak kalah dengan anak-anak jurusan Multimedia, haha…… (cuman sedikit
bercanda).
Di jurusan ini juga saya banyak
belajar tentang pelayanan, percaya diri, dan bagaimana cara mengatasi masalah
yang MUNGKIN tidak saya dapatkan di jurusan lain.
Sekarang saya bekerja di salah
satu Instansi Pemerintahan yang bekerja di bidang Pelayanan dipercaya sebagai Perencanaan,
Editing dan Disain Grafis.
Memang ini tidak seberapa, tetapi
cukup untuk menggambarkan bahwasannya untuk mencapai sebuah tujuan, kita tidak
harus melalui jalan yang ada, terkadang kita harus mencari batu loncatan agar membuat
kita yakin hal yang ingin kita tuju itu benar-benar sesuatu yang terbaik untuk
kita.
Dan tentunya celotehan ini cukup
untuk mematahkan seluruh persepsi miring orang tentang jurusan Penjualan.
Jam sudah menunjukkan angka 11
pagi, kopi wasiatku sudah terasa dingin, rupanya ia sudah lelah dengan
celotehan ku, asap tipispun sudah mulai bersembunyi, air matapun kini sudah
hilang berlalu, waktunya beristirahat.
PENULIS :Send
EDITOR : Amatirizem

0 Komentar